Seorang siswa asing bertanya seperti ini. "Pak/Bu guru, ada mangkuk kosong di koridor. Siapa yang membuangnya?" Bukan begitu. Penghuni rumah itu sengaja menaruhnya di situ. ## Mengapa mangkuk ditaruh di depan pintu? Dulu, jajangmyeon dan jjamppong diantar dalam mangkuk keramik. Mangkuk itu milik toko, jadi harus dikembalikan setelah selesai makan. Karena itu, kalau pelanggan menaruh mangkuk di depan pintu, petugas pengantar akan datang nanti untuk mengambilnya. Pelanggan tidak perlu membawa mangkuk itu sendiri ke toko. Kebiasaan inilah yang masih bertahan sampai sekarang. ## Kenapa tidak menekan bel lalu menyerahkannya langsung? Banyak orang merasa agak canggung harus bertatap muka sambil membawa piring bekas makan. Kurir juga sibuk, jadi kalau ditaruh di depan pintu, waktu kedua pihak sama-sama terhemat. Saat COVID, pengiriman tanpa saling bertemu muka makin banyak, sehingga hal ini jadi terasa lebih wajar. ## Apakah saya juga boleh menaruhnya di luar? Belakangan ini, makanan pesan antar kebanyakan datang dalam wadah sekali pakai. Wadah ini tidak akan dibawa pergi, jadi kita harus memilah dan membuangnya sendiri untuk didaur ulang. Kamu bisa tahu apakah restoran itu mengambil kembali wadahnya dengan melihat keterangan dari restoran atau aplikasi saat memesan. Kalau restorannya mengambil kembali wadahnya, lakukan seperti ini. Buang sisa makanan, bilas sekali dengan air, lalu letakkan tepat di samping pintu. Membilas itu bentuk perhatian kecil untuk orang yang akan memegang wadah tersebut berikutnya.